Tiga Model Excavator 20 Ton Terbaru

Pembangunan infrastruktur yang kian pesat di berbagai daerah belakangan ini membuat pasar excavator kelas 20 ton di Indonesia makin besar. Mesin penggali berukuran sedang ini memang dikenal sebagai jagoan dalam menangani pekerjaan-pekerjaan di sektor konstruksi. Pemakaian alat yang berleher jenjang ini juga lintas sektoral. Selain laris di sektor konstruksi, termasuk quarry, mesin ini dapat beroperasi di sektor agrikultur, forestry dan pekerjaan-pekerjaan eathmoving lainnya di sektor pertambangan. Itu sebabnya, populasi excavator kelas 20 ton paling banyak dibandingkan model yang lainnya.

General Manager Marketing Forestry, Agriculture & Construction PT. Trakindo Utama, Rozy Andrianto, menyebutkan, hingga saat ini excavator kelas 20 ton memberi kontribusi sebesar 40,7 persen terhadap total market industri alat berat di Indonesia. “Hydraulic excavator kelas 20 ton merupakan salah satu tipe alat berat yang paling diminati pada pekerjaan konstruksi, karena mesin ini memiliki fungsi serba guna dan mampu melakukan pekerjaan di berbagai medan,” ungkapnya kepada Equipment Indonesia jelang peluncuran dua model hydraulic excavator kelas 20 ton merek Caterpillar pada awal Agustus 2018.

Penialain senada diungkapkan Asep Abdul Mupid, Key Account Director Volvo Construction Equipment (Volvo CE). Dia bilang, excavator kelas 20 ton menjadi pilihan favorit kontraktor-kontraktor di bidang infrastruktur. Namun, dia mengingatkan, banyak customer menggunakan alat tidak sesuai dengan spesifikasinya. Akibatnya, hasil pekerjaannya tidak optimal dan operasinya kurang efisien. Dia mencontohkan penggunaan Volvo Excavator EC210D untuk aplikasi general purpose, yang sebetulnya tergolong overspec.

“Tim Volvo CE melakukan banyak studi lapangan dengan bertanya langsung kepada para customer mengenai spesifikasi alat yang mereka butuhkan untuk aplikasi general construction. Dari hasil kajian itu kami melihat ada suatu kebutuhan untuk keperluan-keperluan general purpose di Indonesia yang sebetulnya untuk spesifikasi EC210D itu overspec. Solusinya adalah EC200D,” ungkapnya saat peluncuran EC200D di Jogyakarta, Maret 2018.

JCB juga merespon sangat positif pertumbuhan signifikan pembangunan infrastruktur di Indonesia dalam empat tahun belakangan, seperti diungkapkan David Purba dari JCB Indonesia. Dia mengangkat pembangunan infrastruktur di area Jawa sebagai barometernya. “Pangsa pasar Jawa untuk alat konstruksi sekitar 25% hingga 30% dari pasar nasional. Dengan populasi yang mencapai sekitar 160 juta jiwa, pembangunan infrastruktur di area Jawa tidak akan pernah berhenti dan semuanya itu membutuhkan alat berat,” ujarnya.

Untuk memacu percepatan pembangunan infrastruktur nasional, JCB mengembangkan excavator kelas 20 ton, JS205, yang diklaim sangat sesuai dengan tuntutan riil di lapangan. Alat ini ditenagai dengan mechanical engine yang dinilai sangat sesuai dengan kondisi bahan bakar di sini. “Excavator JCB JS205 yang kami pasarkan saat ini menggunakan mechanical engine yang sangat cocok dengan kondisi bahan bakar yang masih kurang baik di Indonesia,” ujarnya saat ditemui pada acara ‘JCB Customer’s Day’ di workshop PT. Airindo Sakti, di kawasan Wanaherang, Bogor, April 2018. PT. Airindo Sakti merupakan dealer JCB untuk area Jawa hingga Nusa Tenggara.

Terlepas dari apapun mereknya, Director PT. Probesco Kanamoto Rental, Andrey H. Susena, menegaskan bahwa saat ini kue besar ada di sektor konstruksi, dan excavator kelas 20 ton berperan penting dalam pengerjaan proyek-proyek konstruksi. “Excavator kelas 20 ton merupakan jenis alat yang paling banyak dicari oleh para customer, karena mesin ini benar-benar serba guna,” ungkapnya dalam acara Customer Gathering Probesco Kanamoto Rental di Pekanbaru, Riau, November 2018.  Probesco Kanamoto Rental adalah pemain rental yang menyewakan beragam jenis alat berat konstruksi untuk berbagai sektor, termasuk excavator 20 ton.

Baca Juga : Harga Sewa Excavator Terupdate Bulan April 2020

Menurut Susena, ada dua sektor utama yang menjadi pasar empuk excavator kelas 20 ton, yakni sektor konstruksi dan plantation, khususnya kelapa sawit. “Pemerintahan Joko Widodo fokus pada penambahan dan perbaikan infrastruktur. Sementara dari sisi plantation, produksi palm oil Indonesia saat ini nomor satu di dunia. Kami ingin memaksimalkan kedua peluang tersebut,” ujarnya.